Brother and Sister vs The Killers
Pada suatu hari Minggu, Fika
menemani Mama nya ke pasar kecil di sebuah gang. Jarak dari rumah nya menuju
pasar tersebut mungkin 2 km, sehingga Fika dan mamah nya menggunakan motor.
Saat keduanya sudah selesai berbelanja, Fika segera bergegas menaiki sepeda
motor. Fika merasa bahwa saat ia menstater motor nya, mamah nya sudah menaiki
sepeda motor nya dibagian jok belakang, sehingga ia langsung tancap gas tanpa menoleh
ke spion atau memperhatikan kebelakang. Namun, saat sudah berada di area
komlpek rumahnya, ia mengajak mamah nya mengobrol. Ketika ia melihat rumsh yang
telah lama diiklankan untuk di kontrakan, fika berkata “Rumah ini sudah lama
banget engga ada yang nempatin ya Ma”. Namun, selesai berkata demikian, Fika
langsung merasa aneh karena Mamah nya hanya diam saja. Saat ia menoleh
kebelakang, ternyata Mamahnya tidak ada. “Gila!!!’ gumam Fika. Ia langsung
panik bukan main. Ia langsung berfikir dan takut kalau Mamah nya terjatuh dari
motor. Sudah begitu, ia lupa tidak membawa Hpnya pula.
Kicauan burung meramaikan pagi hari
yang sejuk ini. “Fika anterin mama kepasar yu” teriak mama. “iya mah bentar”
jawab Fika. Fika pun langsung menuju kearah ruang keluarga. “yuk mah udah siap
nih,pake motor aja ya mah biar ngga cape” ujar Fika. “yaudah,tapi bensin masih
banyak kan?” tanya mamah “kan baru kemaren isi bensin mah.” Jawab Fika. “ya
barangkali aja kamu minum tuh bensin” ucap mamah “ya allah emang Fika limbad
minum bensin”jawab fika. “yaudah yu langsung berangkat aja” ucap mamah. “Mah
Reynaldi ikut ya” ucap kaka fika. “ngga usah rey kamu jaga rumah aja” jawab
mama. “yaudah,mamah bawa kunci ya aku mau jogging”ucap reynaldi. “iya” jawab
mamah. Fika dan Mamah pun langsung ke arah garasi untuk mengambil motor. Saat
keduanya sudah selesai berbelanja, Fika segera bergegas menaiki sepeda motor.
Fika merasa bahwa saat ia menstater motor nya, mamah nya sudah menaiki sepeda
motor nya dibagian jok belakang, sehingga ia langsung tancap gas tanpa menoleh
ke spion atau memperhatikan kebelakang. Namun, saat sudah berada di area
komlpek rumahnya, ia mengajak mamah nya mengobrol. Ketika ia melihat rumsh yang
telah lama diiklankan untuk di kontrakan, fika berkata “Rumah ini sudah lama banget
engga ada yang nempatin ya Ma”. Namun, selesai berkata demikian, Fika langsung
merasa aneh karena Mamah nya hanya diam saja. Saat ia menoleh kebelakang,
ternyata Mamahnya tidak ada. “Gila!!!’ gumam Fika. Ia langsung panik bukan
main. Ia langsung berfikir dan takut kalau Mamah nya terjatuh dari motor. Sudah
begitu, ia lupa tidak membawa Hpnya pula. Lalu Fika pun langsung berbalik arah
menuju pasar. Terdengar suara minta tolong dari sebuah gang kecil yang di
lewati fika,fika pun langsung menuju ke gang itu, tidak lama reynaldi datang,
“eh fik,mamah mana?” tanya kaka fika. “Ngga tau tadi perasaan udah naik tapi
pas aku ajak ngobrol ngga ada” jawab Fika. “ka ka denger ngga ada suara orang
minta tolong” tanya Fika. “iya fik aku denger,kaya nya dari gang itu deh”jawab
reynaldi sambil menunjuk kearah sebuah gang. “samperin aja yu fik kasihan tuh
orangnya” ujar kaka fika. “jangan ka aku takut,barangkali aja ada penjahat”
ucap Fika. Lalu kaka fika pun menjawab “kan aku jago taekwondo kamu juga
jago,kenapa harus takut kalo buat membela kebenaran”. “Yaudah deh ka aku ikut”
ucap fika. Mereka berdua pun langsung masuk ke gang itu,semakin dekat suara itu
terdengar fika makin mengenali suara itu. “ka itu kaya suara mamah ya?” tanya
fika. “iya fik itu kaya suara mamah” jawab reynaldi. Setelah jauh berjalan
mereka berdua tiba disebuah rumah tua yang tampak tidak berpenghuni. “fik
suaranya berasal dari rumah ini kita langsung masuk aja” ucap reynaldi. Fika
pun menjawab “iya ka,tapi kaka jalan di depan”. Mereka pun langsung masuk
kerumah tua itu,bangunannya seperti rumah pada jaman belanda dulu. Setelah
mereka sampai di halaman depan, mereka berdua melihat seorang laki-laki yang
tinggi dan besar badanya menyeret sebuah karung yang sangat besar menuju suatu
bangunan. “ka itu siapa ka” tanya Fika. Reynaldi pun menjawab “kayanya dia yang
punya rumah ini deh fik”. “coba deh ka perhatiin dibawah karungnya kaya ada
tumpahan darah” ucap fika. “coba yu kita deketin” ucap Reynaldi. Mereka berdua
pun langsung mendekat kearah tempat itu. Reynaldi pun berkata “iya Fik bener
ini darah,baunya juga amis darah”. Setelah itu pun mereka langsung masuk kearah
pintu dimana pria tadi keluar. “ka rumahnya serem banget,lampunya juga cuman
pake lilin” ujar Fika. “iya Fik dari bentuk rumahnya ini kaya rumah jaman
belanda” ucap Reynaldi. Suara jeritan itu pun sudah tidak terdengar lagi. Mata
Fika dan Reynaldi tertuju pada sebuah pintu yang didepannya ada beberapa bercak
darah. Lalu mereka pun langsung menuju kepintu itu. Setelah sampai didepan
pintu mereka langsung mebuka pintunya pelan pelan. Mereka berdua pun kaget
karena ada sebuah kain berwarna putih yang berlumuran darah. dan mereka
langsung menuju kearah kain putih itu dan membukanya. Setelah dibuka mereka
kaget ternyata mamah nya lah yang dibawah kain itu. Keringat bercucuran,jantung
mereka berdegup sangat kencang. Tidak lama setelah itu ada dua orang laki-laki
dewasa yang masing-masing membawa senjata tajam, yang satu membawa samurai dan
yang satu lagi membawa pisau ditangannya,dan Fika dan Reynaldi berkata “apakah
kalian yang membunuh orang tua kami?”. Dan dua pria itu pun langsung menyerang
Fika dan Reynaldi, untungnya mereka berdua jago Taekwondo,tetapi mereka tidak
bisa menganggap remeh dua pria itu karena dua pria itu membawa senjata tajam.
Setelah itu Fika langsung mengunci satu pria itu dan mematahkan tangan pria
itu,dan Fika langsung mengambil tali tambang yang panjang dan mengikat penjahat
itu. Setelah itu Fika pun langsung membantu Reynaldi. Penjahat itu menendang
Reynaldi hingga ia terjatuh dan mengangkat tangannya berencana ingin menebas
badan Reynaldi, tetapi Fika langsung menendang tangan penjahat itu hingga
samurainya terlempar jauh dan Reynaldi pun langsung bangun lagi dan menendang
kepala penjahat itu hingga penjahat itu jatuh pingsan dan mereka berdua
mengikat penjahat itu dengan kencang. fika pun langsung mengambil samurai itu
dan ingin menebas penjahat itu tetapi ketika Fika ingin menebas penjahat itu
Reynaldi menahan tangan Fika dan berkata “jangan fik untuk apa kamu melakukan
ini” Fika pun menjawab “aku ingin balas dendam, karena nyawa harus dibayar
dengan nyawa juga”. “untuk apa kamu balas dendam,apa kalau kamu balas dendam
mamah bakalan bangun lagi?,ngga kan.” Ucap Reynaldi. Fika pun berfikir ulang
didalam hatinya dan Fika pun berkata “bener kata kaka kalo aku balas dendam
mamah ngga bakalan bangun lagi” dan Reynaldi pun berkata “mendingan kita
sekarang cari polisi, kamu yang ke kantor polisi, aku yang tunggu di sini.”
Fika pun menjawab “yaudah ka, hati-hati ya jaga yang bener tuh penjahat” “iya
kamu juga hati-hati”. Setelah itu Fika pun langsung menuju kantor polisi. Saat
berada dijalan Fika melihat seorang anak kecil yang sedang disuapi makanan oleh
mamahnya Fika teringat oleh mamahnya dan Fika terus melanjutkan perjalanannya
sambil meneteskan air mata. Sesampai di kantor polisi Fika langsung ditanya
oleh seorang polisi “ada yang bisa saya bantu?” Fika pun menjawab “ibu saya menjadi
korban penculikan dan pembunuhan” “yasudah kita langsung berangkat ke TKP”
polisi itu pun menuju ke posnya dan menekan alarm tanda adanya tugas. Dan
kurang lebih sekitar 40 orang polisi dengan senjata lengkap berbaris dengan
rapih di lapangan dan menyusun strategi penyerbuan. Sesudah menyusun strategi
mereka langsung pergi untuk pergi ke TKP dengan mobil. Setelah sampai dirumah
penjahat tersebut polisi langsung menangkap 2 penjahat itu dan komandan polisi
tersebut berkata kepada Fika dan Reynaldi “penjahat ini sudah kami cari selama
2 tahun,mereka memang sering membunuh orang dan beberapa organ tubuh korbannya
dijual”.
Setelah itu Fika pun menyadari bahwa
balas dendam itu tidak menghasilkan apa-apa. 2 tahun kemudian Fika lulus kuliah
dan menjadi guru, sementara Reynaldi masuk ke kepolisian, kemudian Reynaldi
mendapatkan tugas untuk menangkap seorang pembunuh,Reynaldi pun teringat ketika
2 tahun lalu mamahnya meninggal karena korban pembunuhan.
-Story by Fakhri Al
Farisi-
Thanks to Bahrul alam